PEMBAGIAN ZAMAN TERSEBARNYA AGAMA ISLAM DI NEGRI NEGRI MELAYU
Setelah diselidiki pertumbuhan dan perkembangan agama Islam di negeri-negeri Melayu itu dari abad ke abad, sejak abadnya yang pertama, yaitu pertengahan abad ketujuh Masehi, abad Pertama Hijriyah, sampai kepada abad kedua puluh, atau abad keempat belas Hijriyah, kita cobalah menyusunnya, dan mungkin agaknya susunan itu mendekati kebenaran.
ZAMAN PERTAMA
(ABAD KETUJUH, KEDELAPAN, KESEMBILAN MASEHI)
Saudagar-saudagar dan pernah juga utusan dari Ummat Islam, yang berintikan bangsa Arab telah datang berbondong-bondong ke negeri-negeri Melayu. Ada yang singgah saja dan ada yang menetap, sehingga mendirikan perkampungan-perkampungan kecil, supaya mereka tidak terganggu mengerjakan agama mereka.
ZAMAN KEDUA
(ABAD KESEPULUH, KESEBELAS, KEDUA BELAS)
Sudah mulai ada golongan-golongan kecil Ummat Islam di negeri-negeri Melayu. Hidup dengan bebas melakukan amal agamanya. Meskipun mereka itu ada orang Arab dan ada orang Persia, atau yang lain, namun mereka tergabung dalam satu kata Islam, yaitu "Ummat." Mereka hidup berbaik-baik dalam Kerajaan Hindu Langkasuka, Sriwijaya, Janggala, Daha dan Singasari. Dan kadang-kadang sudah mulai mereka mendekati pihak kekuasaan (menjadi anggota perutusan Kerajaan Brunai ke Tiongkok tahun 977 M.).
Dengan amat perlahan orang-orang Islam dari luar negeri itu menjadi penduduk negeri yang didiaminya, karena perkawinan mereka dengan perempuan anak negeri. Anak yang mereka turunkan dengan sendirinya menjadi Ummat Islam. Dan budak-budak yang dibeli oleh Ummat Islam tadi, kebanyakan dengan sukarela memeluk agama tuannya, karena nasibnya lebih baik dalam perlindungan tuannya itu. Bahkan dipercayai sebagaimana mempercayai anaknya sendiri.
ZAMAN KETIGA
(ABAD KETIGA BELAS, EMPAT BELAS DAN LIMA BELAS)
Kerajaan hindu dan budha mulailah menurun mundur. Sriwijaya kian lemah sesudah perang dengan Medangkamulan dan Cola- mandala. Sedang Islam telah naik kembali karena pusat kegiatan Islam berpindah dari Bagdad ke Mesir (di zaman Raja-raja Mamluk). Keadaan yang demikian menimbulkan semangat baru dalam kalangan Ummat Islam.
Mulailah berdiri Kerajaan Islam mulanya di Daya (?) Aceh. atau dahulu dari itu di Brunai, kemudian menyusul Samudera Pasai. Oleh sebab Kerajaan Mameluk Mesir itu melindungi juga Mekkah dan Madinah (memakai gelar Khadimul Haramain), maka Syarif Mekkah turut memberikan bantuan atas berdirinya Kerajaan Samudera di samping itu dibantu pula oleh keturunan- keturunan Arab dari Malabar.
Kerajaan Pasai berkembang sampai akhir abad keempat belas. Dipertengahan abad keempat belas itu berdiri Kerajaan Malaka, menyambung kebesaran Pasai. Sedang Majapahit sebagai pusat kemegahan Hindu-Budha (Shiwa-Budha) karena kematian Patih Gajah Mada dan Sri Maharaja Hayam Wuruk, mulai mundur. Perkembangan Pasai amat besar artinya menimbulkan kekuatan semangat dari seluruh Ummat Islam yang hidup terpencar-pencar di negeri-negeri Melayu, terutama di utara Tanah Jawa.
Berdirinya Kerajaan Malaka dipertengahan abad keempat belas, sangat besar artinya bagi perkembangan pengaruh Islam diseluruh negeri-negeri Melayu, terutama karena Raja-rajanya mengatur Politik Luar Negeri dengan bijaksana sehingga mendapat pengakuan dari Tiongkok. Islam telah berkembang sampai ke Maluku dan Kalimantan.
Dan Malaka berdiri di awal Abad Keempat Belas, Kedatangan Duta besar Cheng Ho dari Cina, dan beliau beragama Islam, sangat penting artinya memperkokoh kedudukan Islam.
ZAMAN KEEMPAT
(ABAD KEENAM BELAS)
Jatuh Kerajaan Malaka karena datangnya penjajahan Barat (Portugis). Tetapi oleh karena Ummat Islam telah tersebar dan te- lah mulai berpengaruh dalam masyarakat, maka segeralah berdiri Kerajaan-kerajaan Islam di Aceh Pidir, Demak dan Banten dan sambungan Malaka yaitu Johor, menyusul pula Palembang.
Dikenallah nama-nama Sultan Ali Al-Moghayat Syah Aceh, Raden Fatah dan Wali Songo di Jawa. Dan Fatahillah, disebut juga Syarif Hidayatullah dan sebutan lain, pembangun Kerajaan Banten dan Cirebon dan puteranya Sultan Hasanuddin. Dan bangkit Maluku ki roha, empat kerajaan: Ternate, Tidore, Jailola dan Bacan.
Sultan Khairun dan puteranya Sultan Babullah di Ternate.
ZAMAN KELIMA
(ABAD KETUJUH BELAS)
Sesudah bertarung dengan Portugis dan Spanyol, Islam mulai bertarung dengan penjajahan Barat gelombang kedua, yaitu Belanda dan Inggeris. Timbullah Sultan-sultan Islam yang besar dan perkasa dan pahlawan-pahlawan yang agung; Iskandar Muda Mahkota Alam di Aceh, Sultan Agung Hanyokrokusumo di Mataram (Jawa Tengah), Sultan Ageng Tirtayasa di Banten, Trunojoyo di Madura, Karaeng Galesong dari Makasar, Sultan Hasanuddin Makasar, Untung Suropati di Jawa, dan Raja Iskandar dari Minangkabau.
Timbul ulama besar Syeikh Nuruddin Raniri Aceh, Abdurrauf Singkel, Hamzah Fansuri, Syeikh Yusuf Tajul Khalwati Makasar dan Banten. Timbul pujangga Melayu yang terkenal dalam persuratan dengan nama kecilnya "Tun Sri Lanang" dan gelar jabatannya sebagai Bendahara negeri Johor, Bendahara Paduka Raja.
ZAMAN KEENAM
(ABAD KEDELAPAN BELAS DAN SEMBILAN BELAS)
Perjuangan lebih hebat dalam merebut hidup di tanah air sendiri, dengan penjajahan Belanda dan Inggris. Islam bertambah menunjukkan coraknya karena hubungan dengan Mekkah bertambah lancar, dengan didapatnya kapal api ganti kapal layar. Orang Arab Hadramaut mulai lebih mudah dan berbondong datang ke negeri-negeri Melayu. Kekuasaan Kerajaan-kerajaan Islam mulai menurun, karena datangnya penjajahan, kaum ulama tetap mempelopori kebesaran Islam.
Di dalam abad kedelapan belas dan kesembilan belas timbulah pahlawan-pahlawan Islam baik dari kalangan bangsawan atau dari kalangan ulama.
Kadang-kadang mereka berjuang mempertahankan kemerdekaan yang masih ada, karena dengan demikian pulalah agama Islam akan tetap merdeka. Di abad kedelapan belas timbul Raja Haji keturunan Raja-raja Bugis, menjadi Yamtuan Muda (Bendahara) Johor dan Riau, dan tewas karena berperang dengan Belanda di Malaka, sehingga layaklah nama pahlawan ini di peringati di Indonesia sekarang, karena dia berasal dari Bugis, lalu berkuasa di Riau, dan layak pula diperingati di Kerajaan Malaysia, karena dia menjadi Bendahara Johor dan tewas karena berperang dengan Belanda di Malaka.
Terkenal pula pahlawan Abdul Said gelar Datuk Sri Maharaja Merah, datuk dalam negeri Naning (Malaka), dan berasal dari Minangkabau
Di abad kesembilan belas terkenal nama-nama Tuanku Imam Bonjol dan "Harimau nan Delapan" (kaum Paderi) di Minangkabau, Pangeran Diponegoro di Jawa, Tengku Chik di Tiro, Teuku Umar Johan Pahlawan dan Panglima Polim di Aceh, Pangeran Antasari di Kalimantan, Raden Intan di Lampung. Sultan Daud Badaruddin di Palembang, Orang Kaya Kemaman dan Datuk Gajah di Pahang, Kyai Haji Wasith dan kawan- kawan beliau di Banten.
Waktu itu pula timbul ulama-ulama besar; Syeikh Arsyad Banjar, Syeikh Nawawi Banten, Syeikh Abdus Samad Palembang. Sayid Usman bin Yahya Jakarta, Syeikh Ahmad Khatib Minang- kabau dan lain-lain. Syeikh-syeikh itu mengisi jiwa umat Islam dengan ilmu pengetahuan yang luas dalam hal figh, tasawwuf dan tauhid.
ZAMAN KETUJUH
(DARI PANGKAL SAMPAI PERTENGAHAN ABAD KEDUA PULUH)
Negeri-negeri Melayu mulai merasakan kebangkitan yang baru dari Islam, karena masuknya faham-faham yang diajarkan oleh kaum Wahabi dan dipermoderen lagi oleh Sayid Jamaluddin Afghany, Syeikh Mohammad Abduh dan Sayid Rasyid Ridha. Timbul permulaan Kaum Muda di Malaya, Syekh Taher Jalaluddin, Sayid Syeikh Al-Hadi, Syeikh Mohammad Al-Kalali, Sayid Abdullah bin Aqil, dan Za'ba. Terbit Majallah Islam yang membawa perbaharuan faham Islam yang mula-mula bernama "Al-Imam" (1906-1909), dan di Sumatera Barat (Minangkabau) timbul gerakan Kaum Muda dengan Majallah "Al-Munir" (1911) maka muncullah murid-murid Syeikh Ahmad Khatib yang baru pulang dari Mekkah, tiga orang di antaranya yang sangat terkenal; Haji Abdullah Ahmad Padang. Haji Abdul Karim Amrullah di Padang Panjang dan Syeikh Mohammad Jamil Jambek di Bukit- tinggi. Di Jawa timbullah kebangkitan kesadaran politik yang dipelopori oleh kesadaran Islam, dipimpin oleh Haji Samanhudi, H.O.S. Cokroaminoto, Haji Agus Salim dan Abdul Muis. Dan timbul kebangkitan perbaharuan faham agama yang dipelopori oleh Kiyahi Haji Ahmad Dahlan dengan mendirikan Muhammadiyah dan Syeikh Ahmad Soorkati dengan mendirikan perkumpulan "Al-Irsyad."
Kemudian dituruti oleh Kyai Hasyim Asy'ariy dengan mendirikan "Nahdlatul Ulama," murid-murid Syeikh Hasan Ma'shum di Medan mendirikan "Al-Jam'iyatul Washliyah," dan menyusul lagi gerakan-gerakan Islam yang lain, seumpama Perti, Persis, Persatuan Ulama, Persatuan Ummat Islam dan lain-lain; semuanya berjasa membentengi Islam.
Dan kemudiannya seluruh kebangkitan dan kesadaran Islam itu bersatu padu dengan gerakan "kebangsaan," sehingga tercapai Kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda pada tanggal 17 Agustus 1945.
Dan di Semenanjung Tanah Melayu tercapai pula kemerdekaan dari penjajahan Inggeris pada 31 Agustus 1957, dengan menjadikan agama Islam sebagai agama resmi Kerajaan Persekutuan Tanah Melayu. Dan 5 tahun kemudian (1962) diganti namanya jadi Kerajaan "Malaysia" dengan menggabung kan Sabah dan Sarawak.
Dan umat Islam di kepulauan Sulu dan Mindanao (Pilipina) terlingkung pula dalam kemerdekaan negeri Pilipina.
Sumber buku sejarah umat Islam karya (Prof. Dr. Hamka)
Komentar
Posting Komentar